Anda mungkin sedang mengalami situasi yang cukup membingungkan. Murai batu kesayangan Anda yang biasanya gacor dan rajin ngeplong tiba tiba hanya mengeluarkan suara ngeriwik pelan saat memasuki fase dorong ekor. Jangan panik terlebih dahulu. Fenomena ini sebenarnya sangat umum terjadi pada murai batu dan bukan berarti burung Anda mengalami kerusakan pita suara atau masalah kesehatan serius.
Berdasarkan riset ilmiah pada repositori IPB dan literatur avian, kondisi murai batu yang hanya ngeriwik saat dorong ekor merupakan respons fisiologis alami akibat trade off energi dan perubahan hormonal dalam tubuh burung. Fase dorong ekor adalah periode yang sangat boros energi karena tubuh murai batu sedang fokus menumbuhkan bulu ekor baru yang panjang dan indah.
Laju metabolisme burung dapat meningkat hingga 82 persen di atas kondisi normal, sehingga tubuh secara otomatis mengalihkan energi dari aktivitas sekunder seperti berkicau lantang ke prioritas utama yaitu pertumbuhan fisik. Selain itu, kadar testosteron yang mengendalikan kicauan gacor menurun drastis saat dorong ekor, menyebabkan bagian otak yang mengontrol vokal mengalami penyusutan volume sementara.
Alokasi Energi untuk Pertumbuhan Ekor
Saat murai batu Anda memasuki fase dorong ekor, tubuhnya sedang melakukan investasi besar besaran untuk sintesis keratin yang membentuk bulu ekor panjang. Proses dorong ekor membutuhkan protein, mineral, dan nutrisi dalam jumlah sangat tinggi. Oleh karena itu, tubuh murai batu secara cerdas memprioritaskan sumber daya energi untuk pertumbuhan fisik daripada untuk aktivitas gacor yang memerlukan tenaga besar.
Jika murai batu dipaksa ngeplong keras saat dorong ekor, kualitas bulu ekor bisa rusak atau tumbuh tidak maksimal seperti keriting atau pendek karena kekurangan nutrisi. Inilah sebabnya mengapa murai batu Anda cenderung hanya ngeriwik pelan dengan volume rendah dan frekuensi yang tidak stabil. Kondisi ini bukanlah tanda kelemahan mental atau penurunan kualitas burung, melainkan bukti bahwa metabolisme tubuhnya sedang bekerja dengan benar.
Oleh karena itu, Anda tidak perlu memaksakan murai batu untuk gacor dengan cara ditrek atau dipancing menggunakan masteran selama fase dorong ekor. Fokuskan perhatian Anda pada penyediaan pakan berprotein tinggi seperti jangkrik dan kroto untuk mendukung biaya metabolik yang tinggi selama periode dorong ekor ini.
BACA JUGA: 10 Ciri Trotol Murai Batu yang Gacor Jika Dirawat
Penurunan Hormon Testosteron
Selain faktor energi, penyebab utama mengapa murai batu hanya ngeriwik saat dorong ekor adalah turunnya kadar hormon testosteron dalam darah. Riset neurobiologi pada burung penyanyi menunjukkan bahwa kicauan lantang atau ngeplong dikendalikan langsung oleh testosteron. Saat fase mabung dan dorong ekor, kadar testosteron turun ke titik terendah karena hormon tinggi justru dapat menghambat proses pergantian bulu dan memicu perilaku agresif yang tidak diperlukan saat burung sedang istirahat.
Akibat penurunan testosteron ini, bagian otak murai batu yang disebut song nuclei mengalami penyusutan volume sementara, sehingga burung hanya mampu memproduksi ngeriwik atau subsong yang tidak terstruktur. Ngeriwik berbeda dengan suara gacor dalam hal amplitudo, frekuensi, dan fungsinya.
Ngeriwik memiliki amplitudo rendah, frekuensi tidak stabil, dan jeda antar silabel yang rapat serta tidak beraturan. Sementara itu, suara gacor memiliki amplitudo tinggi, jeda antar silabel yang jelas, dan ritme yang teratur. Fungsi ngeriwik adalah untuk latihan vokal dan relaksasi diri, bukan untuk komunikasi teritorial seperti saat murai batu sedang gacor dan fighter.
BACA JUGA: Cara Menyembuhkan Katarak Pada Murai Batu dan Penyebab Utamanya
Faktor Eksternal yang Memperparah Kondisi Ngeriwik
Meskipun penyebab utama murai batu ngeriwik saat dorong ekor adalah faktor internal hormonal dan energi, ada beberapa faktor eksternal yang bisa memperparah kondisi ini. Pertama adalah kurangnya penjemuran. Pada fase dorong ekor, murai batu memang tidak boleh dijemur terlalu lama agar bulu muda tidak rusak atau keriting. Namun, kurangnya paparan sinar matahari ini mengurangi stimulasi vitamin D dan metabolisme yang biasanya memicu burung untuk rajin berbunyi.
Kedua adalah ketidakstabilan emosi. Murai batu yang sedang menumbuhkan bulu seringkali merasa tidak nyaman atau sakit, sehingga ngeriwik menjadi respons alami untuk menenangkan diri tanpa menarik perhatian predator atau pesaing. Ketiga adalah stres akibat lingkungan yang terlalu ramai, sering dipindah pindah sangkar, atau terlalu sering ditrek dengan murai batu lain. Kondisi stres ini akan semakin menekan murai batu untuk tidak gacor dan hanya mengeluarkan suara ngeriwik yang pelan.
Oleh karena itu, Anda harus memastikan bahwa murai batu ditempatkan di lokasi yang tenang, tidak terlalu ramai, dan mendapatkan rawatan harian yang konsisten tanpa gangguan berlebihan selama fase dorong ekor berlangsung.
BACA JUGA: 7 Langkah Menyembuhkan Murai Batu dari Penyakit Tetelo
Strategi Perawatan untuk Mengembalikan Performa
Kabar baiknya adalah kondisi murai batu yang hanya ngeriwik saat dorong ekor bersifat sementara dan akan kembali gacor secara alami setelah fase dorong ekor selesai. Yang perlu Anda lakukan adalah memberikan perawatan yang tepat untuk mendukung pertumbuhan ekor yang maksimal.
Pertama, jangan pernah memaksa murai batu untuk bunyi dengan cara dipancing tarung menggunakan masteran atau burung lain karena hal ini dapat mengganggu pertumbuhan ekor dan menyebabkan stres berkepanjangan. Kedua, fokuskan pada pemberian pakan berprotein tinggi seperti jangkrik, ulat hongkong, dan kroto secukupnya untuk mendukung sintesis keratin pada bulu ekor.
Ketiga, kurangi durasi penjemuran atau bahkan hentikan sementara jika mabung terlalu berat, agar bulu ekor tidak rusak. Keempat, berikan waktu istirahat yang cukup dengan menggunakan krodong untuk mengurangi gangguan visual dan stres. Setelah bulu ekor mentok atau tuntas tumbuh, Anda bisa mulai menaikkan setelan extra fooding secara bertahap, meningkatkan durasi penjemuran, dan mulai melakukan latihan ringan. Pada fase ini, kadar testosteron akan naik kembali, bagian otak vokal akan pulih, dan murai batu Anda akan kembali gacor seperti semula bahkan dengan kualitas suara yang lebih baik karena kondisi fisiknya prima.


