Bagi Anda para Kicau Mania, memahami usia burung jagoan di rumah adalah hal yang krusial. Bukan hanya soal performa di gantangan, mengetahui usia Murai Batu juga penting untuk perawatan jangka panjang atau keputusan breeding.
Murai batu yang sudah memasuki masa tua atau “afkir” tentu membutuhkan perlakuan berbeda dibandingkan burung yang masih muda dan agresif. Berikut adalah 7 ciri fisik dan perilaku yang bisa Anda amati secara mendetail untuk mengetahui apakah Murai Batu kesayangan Anda sudah memasuki masa pensiun.
1. Kaki yang Bersisik Tebal dan Kasar (Medang)
Tanda paling jelas burung murai batu tua yang bisa Anda lihat pertama kali adalah pada bagian kaki. Murai Batu muda biasanya memiliki kaki yang mulus, mengkilap, dan terlihat “basah”. Namun, seiring bertambahnya usia, kulit kaki akan mengalami penebalan lapisan keratin yang signifikan.
Anda akan melihat sisik-sisik pada kaki (shanks) yang menebal, mengeras, dan menumpuk hingga menyerupai “sepatu boots”. Teksturnya menjadi sangat kasar dan warnanya cenderung memutih atau kusam (medang). Semakin tebal dan berlapis sisik tersebut, semakin tua usia burung Anda. Pada tahap afkir, sisik ini bahkan bisa terlihat sedikit terangkat di bagian ujungnya.
BACA JUGA: 5 Langkah Membersihkan Kutu dan Tungau Pada Murai Batu
2. Rongga Mulut yang Menghitam
Jika Anda ingin kepastian lebih lanjut, cobalah buka paruh burung Anda secara perlahan. Ini adalah indikator usia murai batu tua yang sangat akurat namun sering luput dari perhatian. Perhatikan warna langit-langit dan rongga mulutnya dengan seksama.
Pada Murai Batu trotol atau muda, rongga mulut didominasi warna putih kemerahan atau pink cerah yang segar. Namun, pada burung tua, pigmentasi ini berubah drastis. Anda akan mendapati rongga mulut yang berwarna hitam pekat atau gelap menyeluruh. Perubahan warna ini terjadi secara bertahap, dan jika warna hitamnya sudah merata hingga ke pangkal tenggorokan, itu tanda pasti bahwa burung tersebut sudah sangat berumur.
BACA JUGA: 7 Manfaat Ikan Cere Untuk Murai Batu dan Cara Memberikannya
3. Sorot Mata yang Sayu dan Mengeruh
Mata adalah cerminan vitalitas seekor burung. Murai Batu muda yang siap tempur memiliki mata yang bulat, menonjol, jernih, dan tatapannya tajam mengintimidasi lawan. Sebaliknya, Murai Batu tua memiliki sorot mata yang jauh berbeda.
Anda akan melihat tatapan yang terlihat lelah, sayu, dan kurang responsif terhadap gerakan di sekitarnya. Selain itu, perhatikan lensa matanya. Pada burung yang sudah afkir, sering kali muncul selaput tipis berwarna putih atau kekeruhan (gejala katarak) yang membuat mata tidak lagi bening kristal. Hal ini secara alami akan mengurangi ketajaman penglihatan mereka saat menyambar mangsa atau extra fooding.
BACA JUGA: 8 Langkah Merawat Murai Batu Trotol Umur 2 Bulan
4. Bulu Kusam dan Sulit Tumbuh Sempurna
Kualitas bulu pada burung tua mengalami penurunan drastis karena metabolisme tubuh yang melambat. Bulu hitam yang seharusnya berkilau metalik kebiruan (shiny black) akan terlihat lebih kusam (matte) dan kering, seolah-olah kehilangan minyak alaminya.
Selain warna, perhatikan juga proses mabung (ganti bulu). Pada burung afkir, proses ini sering kali bermasalah. Bulu baru tumbuh lebih lambat, sering kali tidak rapi, atau bahkan mengalami nyulam (ganti bulu tidak serentak) yang berkepanjangan. Ekor yang dulunya panjang menjuntai mungkin tidak akan tumbuh sepanjang saat masa emasnya dulu, dan bulu sayap sering terlihat turun (ngelowo) karena otot yang melemah.
BACA JUGA: 7 Alasan Bulu Kepala Murai Batu Berdiri
5. Penurunan Stamina dan Kelincahan
Perubahan fisik tentu berdampak pada perilaku harian. Di dalam sangkar, Anda bisa mengamati tingkat keaktifan burung. Murai Batu muda biasanya tidak bisa diam, sering melompat antar tangkringan dengan lincah dan penuh tenaga.
Sedangkan Murai Batu tua cenderung lebih pasif. Anda akan melihat mereka lebih banyak diam di satu titik tangkringan untuk menghemat energi. Gerakannya lambat dan tidak lagi “ngotot” saat mendengar suara burung lain. Jika didekati atau digoda, responsnya cenderung lamban. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu untuk tidur atau mengembangkan bulu (mengkorok) daripada beratraksi lincah seperti dulu.
BACA JUGA: 6 Perbedaan Mabung dan Nyulam Pada Murai Batu
6. Volume dan Durasi Kicauan Menurun
Dari segi suara, faktor usia sangat mempengaruhi power dan napas. Meskipun burung tua mungkin masih memiliki variasi lagu (isian) yang mewah karena pengalaman, namun daya tahannya sudah jauh berkurang.
Anda mungkin memperhatikan bahwa volume suaranya tidak lagi tembus atau “kristal” seperti dulu. Suaranya terdengar lebih parau, serak, atau “ngempos” (kehabisan napas) saat mencoba membawakan lagu panjang. Durasi kerja saat berkicau pun menjadi singkat; mereka cepat lelah dan memberikan jeda yang lama antar kicauan. Ini adalah alasan utama mengapa burung tua biasanya dipensiunkan dari arena lomba dan beralih fungsi menjadi guru vokal (masteran) atau indukan.
7. Perubahan Bentuk Paruh dan Kuku
Ciri fisik terakhir yang bisa Anda identifikasi adalah struktur keratin pada paruh dan kuku. Sama seperti sisik kaki, bagian ini terus tumbuh seumur hidup burung. Pada Murai Batu afkir yang kurang perawatan, kuku-kuku jari akan tumbuh sangat panjang, melengkung tidak wajar, dan terlihat rapuh.
Paruhnya pun demikian, sering kali terlihat lebih tebal, kasar, dan terkadang mengalami overgrown (paruh gajah) di mana bagian atas atau bawahnya memanjang berlebihan. Pangkal paruh juga biasanya terlihat lebih lebar dan kasar dibandingkan paruh burung muda yang ramping dan presisi.


