Apakah Anda pernah mengalami situasi yang mengecewakan ketika murai batu kesayangan Anda, yang biasanya tampil gacor dan ngeplong di gantangan, malah sibuk didis alias merapikan bulu terus-menerus? Ini bukan hanya mengurangi performa burung di arena lomba, tapi juga bisa menjadi indikator masalah kesehatan atau perawatan yang perlu segera Anda tangani. Perilaku didis sebenarnya adalah aktivitas alami burung untuk merawat dan merapikan bulunya.
Namun, ketika dilakukan secara berlebihan terutama saat bertanding ini menandakan ada yang tidak beres dengan kondisi burung Anda. Bagi Anda para kicau mania kompetitif yang menginginkan burung tampil maksimal dan gacor di setiap perlombaan, memahami penyebab didis berlebihan beserta solusinya adalah kunci utama. Artikel ini akan membahas beberapa penyebab utama mengapa murai batu Anda sering didis dan bagaimana cara mengatasinya secara efektif, sehingga burung Anda bisa kembali fokus berkicau dengan penuh semangat.
1. Over Birahi
Over birahi atau birahi yang terlalu tinggi merupakan penyebab paling umum mengapa murai batu Anda melakukan didis berlebihan, terutama saat berada di gantangan. Kondisi ini terjadi ketika hormon reproduksi burung melonjak drastis, membuat burung menjadi sangat gelisah dan tidak bisa fokus. Alih-alih mengeluarkan kicauan gacor yang Anda harapkan, burung malah sibuk merapikan bulunya sebagai bentuk perilaku pengalihan atau displacement behavior. Over birahi biasanya dipicu oleh pemberian extra fooding (EF) yang berlebihan, seperti jangkrik, kroto, atau ulat hongkong dalam porsi yang terlalu banyak.
Untuk mengatasi masalah ini, Anda perlu melakukan penyesuaian manajemen pakan dan perawatan harian. Langkah pertama adalah mengurangi porsi EF yang bersifat meningkatkan birahi. Batasi pemberian jangkrik menjadi hanya 2-3 ekor per hari, atau bahkan stop total selama beberapa hari jika kondisi over birahi sudah sangat parah. Tingkatkan frekuensi mandi menjadi 2-3 kali sehari untuk membantu menurunkan suhu tubuh dan menstabilkan hormon burung.
Anda juga bisa memberikan air hangat suam-suam kuku saat memandikan untuk efek yang lebih menenangkan. Hindari menempatkan kandang burung Anda berdekatan dengan burung betina atau burung jantan lain yang terlalu fighter, karena ini bisa memicu birahi lebih lanjut. Jika memungkinkan, masukkan burung ke kandang umbaran selama 1-2 jam setiap hari agar energi berlebihnya tersalurkan dengan baik. Dengan penanganan yang tepat, dalam 3-5 hari burung Anda akan kembali stabil dan siap tampil gacor di arena lomba.
BACA JUGA: 40 Istilah Murai Batu Perlu Anda Tahu Sebelum Masuk Komunitas
2. Mabung (Pergantian Bulu)
Mabung atau nyulam adalah proses pergantian bulu secara alami yang dialami semua burung, termasuk murai batu Anda. Selama periode ini, bulu-bulu lama akan rontok dan digantikan dengan bulu baru yang tumbuh dari folikelnya. Proses tumbuhnya bulu baru ini sering menimbulkan rasa gatal dan tidak nyaman pada kulit burung, sehingga Anda akan melihat burung lebih sering melakukan didis untuk mengurangi rasa gatal tersebut. Ini adalah respons alami dan sebenarnya membantu mempercepat keluarnya bulu jarum dari selaput keratinnya. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, periode mabung bisa berlangsung lama dan membuat burung tidak bisa tampil optimal saat lomba.
Kunci sukses melewati periode mabung adalah dengan memberikan dukungan nutrisi yang tepat dan perawatan yang konsisten. Tingkatkan asupan protein dengan memberikan telur rebus, jangkrik ekstra, atau ulat hongkong dalam porsi yang cukup namun tetap terkontrol agar tidak memicu over birahi. Mandikan burung dengan air suam-suam kuku secara teratur untuk membantu melunakkan selaput keratin pada bulu baru dan mengurangi rasa gatal. Jemur burung selama 15-20 menit setiap pagi antara jam 06.00-07.00 untuk membantu penyerapan vitamin D yang penting bagi pertumbuhan bulu.
Berikan suplemen kalsium dan vitamin B kompleks untuk mendukung proses metabolisme dan pertumbuhan bulu yang sehat. Selama masa mabung, hindari memaksakan burung untuk lomba karena kondisinya sedang tidak prima. Letakkan kandang di tempat yang teduh namun memiliki sirkulasi udara yang baik. Dengan perawatan yang tepat, proses mabung akan berjalan lancar dalam 4-6 minggu, dan burung Anda akan kembali tampil gacor dengan bulu yang lebih indah dan berkilau.
BACA JUGA: 10 Penyebab Murai Batu Bengong Plonga Plongo
3. Infeksi Kutu atau Parasit Eksternal
Kutu dan parasit eksternal adalah musuh tersembunyi yang bisa membuat murai batu Anda terus-menerus didis karena rasa gatal yang luar biasa. Ektoparasit seperti kutu pemakan bulu, tungau, atau lice menyerang permukaan kulit dan sela-sela bulu burung, menyebabkan iritasi dan ketidaknyamanan yang parah. Jika Anda memperhatikan burung sering menggaruk-garuk dengan paruh, terutama di bagian kepala, leher, atau di bawah sayap, kemungkinan besar ada infestasi parasit. Kondisi ini tidak hanya mengganggu performa burung di gantangan, tapi juga bisa menyebabkan kerontokan bulu dan penurunan kondisi kesehatan secara keseluruhan. Lingkungan kandang yang lembab dan kurang bersih adalah tempat ideal bagi parasit untuk berkembang biak.
Untuk mengatasi masalah parasit, Anda perlu melakukan tindakan menyeluruh baik pada burung maupun lingkungan kandangnya. Gunakan obat anti kutu khusus burung seperti Kututox atau spray anti parasit yang bisa Anda dapatkan di toko perlengkapan burung. Mandikan burung dengan air yang telah dicampur obat anti kutu sesuai dosis anjuran, pastikan semua bagian tubuh terbasahi dengan baik. Anda juga bisa menggunakan alternatif alami seperti air rebusan daun sirih yang sudah dingin untuk memandikan burung. Bersihkan kandang secara menyeluruh, termasuk tenggeran, wadah pakan dan minum, serta semua aksesori kandang.
Ganti alas kandang setiap hari dan cuci dengan air panas. Jemur kandang kosong di bawah sinar matahari langsung selama beberapa jam untuk membunuh parasit dan telurnya. Lakukan treatment anti parasit secara rutin setiap 1-2 minggu sebagai langkah preventif. Dengan kandang dan burung yang bebas parasit, murai batu Anda akan kembali nyaman dan siap berkicau gacor tanpa terganggu rasa gatal.
BACA JUGA: 7 Alasan Burung Murai Harus Dikerodong
4. Stres Lingkungan dan Mental
Stres adalah faktor psikologis yang sangat mempengaruhi perilaku murai batu, termasuk menyebabkan didis berlebihan. Burung yang mengalami stres akan menunjukkan berbagai perilaku tidak normal sebagai mekanisme coping, dan salah satunya adalah grooming atau didis yang obsesif. Penyebab stres pada burung bisa bermacam-macam dari perubahan lingkungan yang mendadak, kebisingan berlebihan dari lalu lintas atau tetangga, penempatan kandang yang tidak tepat, atau bahkan trauma setelah kalah dalam perlombaan. Burung yang stres juga cenderung lebih sensitif dan mudah kaget, yang membuat performanya tidak maksimal saat lomba. Anda mungkin juga memperhatikan gejala lain seperti burung menjadi lebih pendiam, nafsu makan menurun, atau bahkan macet bunyi yang tentunya bertentangan dengan harapan Anda untuk memiliki burung yang gacor.
Mengatasi stres pada burung memerlukan pendekatan yang holistik dan kesabaran. Pertama, identifikasi sumber stres dan eliminasi sebisa mungkin. Letakkan kandang burung di tempat yang tenang, aman, dan jauh dari kebisingan atau gangguan hewan lain. Hindari pemindahan kandang yang terlalu sering karena ini bisa membuat burung tidak nyaman dengan lingkungan barunya. Pertahankan rutinitas harian yang konsisten seperti waktu mandi, jemur, dan pemberian pakan yang teratur akan memberikan rasa aman pada burung.
Berikan waktu istirahat yang cukup dengan menutup kandang menggunakan kerodong pada malam hari, minimal 8 jam untuk tidur yang berkualitas. Jika burung baru mengalami trauma dari lomba, berikan masa recovery dengan perlakuan yang lebih lembut dan hindari dulu latihan yang terlalu intensif. Anda bisa memutar suara terapi seperti suara air mengalir atau suara alam untuk membantu burung lebih rileks. Berikan enrichment berupa mainan atau ranting pohon alami di dalam kandang agar burung memiliki aktivitas positif. Dengan penanganan stres yang baik, dalam 2-4 hari burung Anda akan kembali tenang dan performanya membaik.
BACA JUGA: 12 Buah Favorit Murai Batu Yang Penuh Nutrisi dan Bikin Gacor!
5. Kelembaban Udara yang Tidak Sesuai
Kelembaban udara adalah faktor lingkungan yang sering diabaikan namun memiliki dampak besar terhadap kesehatan bulu dan kulit burung. Udara yang terlalu kering akan membuat bulu menjadi kering, rapuh, dan mudah pecah-pecah, sementara kulit burung menjadi kering dan gatal. Kondisi ini memicu burung untuk terus-menerus melakukan didis dalam upaya mengatasi ketidaknyamanan tersebut. Sebaliknya, kelembaban yang terlalu tinggi juga tidak baik karena bisa menyebabkan pertumbuhan jamur pada bulu dan kulit.
Di Indonesia, dengan iklim tropis yang bervariasi, Anda perlu memperhatikan kondisi kelembaban di tempat Anda memelihara burung. Penempatan kandang di dekat AC, kipas angin yang bertiup langsung, atau di ruangan tertutup tanpa sirkulasi udara yang baik bisa menciptakan kondisi kelembaban yang tidak ideal. Untuk menjaga kelembaban optimal bagi murai batu Anda, lakukan beberapa langkah praktis berikut. Mandikan burung lebih sering, idealnya 2-3 kali sehari terutama saat cuaca panas atau udara terasa kering.
Anda bisa menyediakan wadah mandi (karamba atau cepuk) di dalam kandang agar burung bisa mandi sendiri kapan saja mereka merasa perlu. Letakkan wadah air di dekat kandang atau gunakan humidifier jika tersedia untuk menjaga kelembaban udara di sekitar area burung. Hindari menempatkan kandang di dekat AC atau kipas angin yang meniup langsung karena ini akan membuat udara terlalu kering.
Semprot kandang dan area sekitarnya dengan air bersih secara berkala, terutama saat pagi dan sore hari. Jika Anda tinggal di daerah dengan kelembaban rendah, pertimbangkan untuk meletakkan handuk basah atau kain lembab di dekat kandang. Pastikan kandang memiliki ventilasi yang baik agar udara tetap segar namun tidak terlalu kering. Dengan kelembaban yang terjaga baik, bulu burung akan tetap lembut dan elastis, kulit tidak gatal, dan burung Anda bisa fokus tampil gacor tanpa terganggu oleh ketidaknyamanan.
BACA JUGA: 10 Cara Menjodohkan Burung Murai Batu Jantan Dengan Betina Untuk Pemula
6. Nutrisi Tidak Seimbang dan Defisiensi
Nutrisi yang tidak seimbang atau kekurangan vitamin dan mineral tertentu bisa menjadi penyebab mendasar mengapa murai batu Anda sering didis berlebihan. Bulu dan kulit yang sehat memerlukan asupan nutrisi yang kompleks, termasuk protein, asam lemak esensial, vitamin A, E, dan B kompleks, serta mineral seperti kalsium dan zinc. Ketika burung mengalami defisiensi nutrisi, bulu akan menjadi kusam, rapuh, mudah patah, dan kulit menjadi kering serta gatal.
Kondisi ini memicu burung untuk terus-menerus merapikan bulunya dalam upaya mengatasi ketidaknyamanan, padahal masalah sebenarnya ada pada asupan nutrisi yang kurang berkualitas. Banyak kicau mania yang hanya fokus pada voer murah atau EF yang itu-itu saja tanpa mempertimbangkan keseimbangan nutrisinya, yang pada akhirnya berpengaruh pada performa burung yang tidak maksimal.
Untuk memastikan murai batu Anda mendapat nutrisi optimal, lakukan evaluasi dan perbaikan pada pola pakan. Gunakan voer berkualitas premium yang memiliki kandungan nutrisi lengkap dan seimbang, jangan tergiur harga murah namun kualitas rendah. Berikan variasi extra fooding yang mencakup jangkrik (2-4 ekor/hari), ulat hongkong (1-3 ekor/hari), kroto secukupnya, dan cacing untuk variasi. Tambahkan buah-buahan segar seperti pepaya, pisang, atau apel, serta sayuran seperti kangkung atau sawi yang dicincang halus, berikan 2-3 kali seminggu.
Berikan suplemen multivitamin khusus burung secara rutin, terutama saat masa persiapan lomba atau setelah mabung. Pastikan burung selalu memiliki akses ke air minum yang bersih dan segar, ganti setiap hari. Untuk kalsium tambahan, Anda bisa menyediakan tulang sotong yang digantung di dalam kandang. Perhatikan juga jadwal pemberian pakan—konsistensi sangat penting untuk kesehatan pencernaan burung. Dengan nutrisi yang lengkap dan seimbang, dalam 1-2 minggu Anda akan melihat perbaikan kondisi bulu, burung lebih aktif, dan yang paling penting adalah kicauannya kembali gacor dan ngeplong di setiap kesempatan.
7. Gangguan Kesehatan atau Penyakit Tertentu
Didis berlebihan juga bisa menjadi gejala dari gangguan kesehatan atau penyakit yang lebih serius pada murai batu Anda. Beberapa kondisi medis seperti infeksi kulit, dermatitis, infeksi jamur, infeksi bakteri, atau bahkan penyakit internal bisa menyebabkan ketidaknyamanan yang membuat burung terus-menerus merapikan bulunya. Berbeda dengan penyebab lain yang lebih mudah diidentifikasi, masalah kesehatan seringkali memerlukan pengamatan yang lebih teliti karena gejalanya bisa bervariasi.
Anda mungkin melihat tanda-tanda lain seperti bulu yang kusam dan rontok berlebihan, kulit yang kemerahan atau bersisik, adanya luka atau borok pada kulit, perubahan warna atau konsistensi kotoran, penurunan nafsu makan, atau burung yang terlihat lesu dan tidak bergairah. Kondisi kesehatan yang tidak segera ditangani tidak hanya membuat burung tidak bisa gacor, tapi juga bisa mengancam nyawa burung kesayangan Anda.
Jika Anda mencurigai burung mengalami masalah kesehatan yang lebih serius, langkah terbaik adalah segera berkonsultasi dengan dokter hewan yang memiliki spesialisasi dalam menangani burung. Jangan mencoba-coba memberikan obat sembarangan tanpa diagnosis yang jelas karena ini justru bisa memperburuk kondisi. Sebelum ke dokter hewan, lakukan observasi menyeluruh dan catat semua gejala yang Anda amati kapan mulai terjadinya, seberapa sering, ada tidaknya gejala lain informasi ini sangat membantu dokter dalam membuat diagnosis.
Jika dicurigai ada penyakit menular, isolasi burung tersebut dari burung lain untuk mencegah penyebaran. Jaga kebersihan kandang dan peralatan dengan ekstra ketat, bersihkan dan disinfeksi secara rutin. Ikuti semua instruksi dan resep obat dari dokter hewan dengan disiplin, jangan menghentikan pengobatan meskipun burung terlihat membaik. Berikan dukungan nutrisi ekstra selama masa pemulihan. Hindari stres tambahan dengan memastikan burung mendapat istirahat yang cukup. Dengan penanganan medis yang tepat dan perawatan yang konsisten, burung Anda akan pulih dan kembali aktif dalam beberapa minggu, siap untuk kembali berkompetisi dengan performa terbaiknya.
8. Kondisi Kandang yang Tidak Ideal
Kondisi kandang yang tidak ideal adalah faktor eksternal yang sangat mempengaruhi kenyamanan dan perilaku murai batu Anda. Kandang yang terlalu sempit membuat burung tidak memiliki ruang gerak yang cukup, menyebabkan stres dan frustrasi yang diekspresikan melalui perilaku didis berlebihan. Suhu kandang yang terlalu panas atau terlalu dingin juga membuat burung tidak nyaman. Ventilasi yang buruk menyebabkan udara pengap dan lembab yang tidak sehat.
Kebersihan kandang yang tidak terjaga akan menyebabkan penumpukan kotoran, sisa pakan, dan bakteri yang bisa memicu penyakit dan parasit. Penempatan kandang di lokasi yang salah, misalnya terkena sinar matahari langsung sepanjang hari, terlalu dekat dengan jalan raya yang bising, atau di tempat yang gelap tanpa cahaya alami, semua ini berkontribusi pada kondisi burung yang tidak optimal dan tentunya jauh dari harapan Anda untuk memiliki burung murai batu yang gacor.
Untuk menciptakan kondisi kandang yang ideal, Anda perlu memperhatikan beberapa aspek penting. Pastikan ukuran kandang minimal 40x40x50 cm untuk murai batu dewasa—ini memberikan ruang yang cukup bagi burung untuk bergerak, melompat antar tangkringan, dan membuka sayap. Gunakan bahan kandang yang kokoh namun memiliki ventilasi baik, hindari kandang yang terlalu tertutup. Sediakan 2-3 tangkringan dengan ketebalan dan tekstur yang berbeda agar burung tidak bosan dan kakinya tetap sehat.
Bersihkan kandang setiap hari dengan membuang kotoran dan sisa pakan, cuci wadah makan dan minum dengan air bersih. Lakukan pembersihan menyeluruh dengan disinfektan aman untuk burung minimal seminggu sekali. Letakkan kandang di lokasi yang mendapat cahaya alami yang cukup namun tidak terkena sinar matahari langsung terus-menerus—idealnya di tempat yang teduh di pagi hari dan mendapat sedikit sinar sore. Pastikan suhu di sekitar kandang stabil, tidak terlalu panas (di atas 30°C) atau terlalu dingin (di bawah 20°C). Dengan kondisi kandang yang ideal, burung Anda akan merasa nyaman, sehat, dan siap untuk memberikan performa gacor terbaiknya di setiap gantangan.


