Anda mungkin bertanya, mengapa beberapa Murai Batu tidak boleh tampil di arena gantangan? Jawabannya terletak pada standar kompetisi dan kesejahteraan burung itu sendiri. Dalam dunia kicau mania, setiap event organizer atau EO memiliki regulasi spesifik untuk menjaga fairness dan kualitas lomba.
Murai Batu dengan kondisi tidak ideal bukan hanya berisiko gagal gacor, tetapi juga dapat mengganggu performa kompetitor lain atau bahkan membahayakan kesehatan burung tersebut. Berdasarkan riset komunitas SMM dan praktik umum di Indonesia, ada lima kategori Murai Batu yang sebaiknya tidak Anda turunkan ke arena latpres maupun latber.
Memahami larangan ini akan membantu Anda menghindari diskualifikasi, melindungi investasi burung gacor Anda, dan menjaga integritas kompetisi. Mari kita telusuri satu per satu kategori tersebut beserta alasan ilmiah dan praktisnya.
Murai Batu Nias
Murai Batu Nias memiliki ciri khas ekor hitam dan ukuran tubuh yang relatif kecil dibandingkan varian lain. Meskipun gacor dan memiliki mental jawara, Murai Batu Nias sering dilarang tampil bersama dengan Murai Batu ekor putih dalam event tertentu.
Alasannya bukan karena kalah mental, melainkan ukuran tubuhnya yang kecil membuatnya terlihat seperti betina di mata Murai Batu ekor putih. Kondisi ini memicu birahi berlebihan pada kompetitor lain, menyebabkan mereka over birahi dan gagal ngeplay dengan optimal.
Burung yang mengalami over birahi cenderung ngelowo atau gelondong, bukan nembak dengan tembakan rapat seperti yang diharapkan juri. Dalam kopdar SMM dan event sejenis, Murai Batu Nias biasanya dikelompokkan dalam kelas khusus tersendiri atau dilarang tampil bareng dengan ekor putih untuk menjaga stabilitas emosi semua peserta di gantangan.
BACA JUGA: 8 Faktor Murai Batu Turun ke Lantai Saat Dalam Gantangan
Murai Batu Noktah dan Bordan
Murai Batu Noktah memiliki ciri putih yang sangat tipis pada ekornya, sementara Murai Batu Bordan ditandai dengan bentuk tubuh yang gembung atau membulat saat bertarung. Kedua varian ini sering dilarang di event formal seperti SMM karena dianggap tidak memenuhi kriteria standar fisik yang ditetapkan. Anda perlu memahami bahwa setiap penyelenggara lomba memiliki pakem penilaian katuranggan yang ketat.
Murai Batu dengan putih tipis atau gaya tarung gembung dianggap menyimpang dari standar ideal yang diharapkan untuk kelas umum. Pelanggaran ini bisa berakibat diskualifikasi langsung, bahkan jika burung Anda sangat gacor dan memiliki isian mewah.
Komunitas kicau mania sejak pertengahan tahun lalu telah menetapkan keputusan kolektif ini untuk menjaga kualitas dan keadilan kompetisi. Jika Anda memiliki Murai Batu Noktah atau Bordan, sebaiknya cari event yang secara spesifik mengizinkan atau memiliki kelas khusus untuk varian tersebut.
BACA JUGA: 13 Ciri Murai Batu Jawara yang Bagus Untuk Lomba
Murai Batu Berekor Panjang yang Terlalu Lama Ngelob
Murai Batu dengan ekor panjang memang terlihat indah dan menarik sebagai burung hias. Namun, di arena lomba, ekor panjang justru menjadi kelemahan fatal. Burung dengan ekor panjang cenderung mengalami jeda suara yang sangat lama atau ngelob berkepanjangan antara satu tembakan dengan tembakan berikutnya.
Dalam penilaian juri, frekuensi gacor dan kerapatan tembakan rapat sangat menentukan poin akhir. Murai Batu berekor panjang tidak mampu bersaing dengan burung lain yang memiliki ekor standar karena waktu ngetem yang berlebihan membuat totalnya kalah jauh. Anda akan menemukan bahwa burung ini lebih cocok untuk dinikmati di rumah sebagai masteran atau hiasan taman daripada diturunkan ke gantangan.
Bahkan jika sudah dilakukan rawatan harian dan setingan extra fooding yang optimal, karakteristik fisik ekor panjang tetap menjadi hambatan struktural yang tidak bisa diatasi. Lebih baik fokuskan energi Anda pada Murai Batu dengan proporsi ekor ideal untuk kompetisi.
BACA JUGA: 7 Perbedaan Murai Batu Trotol dan Pastol Perlu Anda Tahu
Murai Batu Sakit dan Belum Fit untuk Tampil
Kondisi kesehatan adalah faktor paling krusial yang menentukan apakah Murai Batu boleh dilombakan atau tidak. Burung yang sedang sakit, ditandai dengan kotoran encer atau berak kapur, nafsu makan menurun, dan bulu mengembang terus, wajib diistirahatkan total. Membawa Murai Batu sakit ke arena latpres atau latber bukan hanya akan membuat burung gagal gacor, tetapi juga berisiko fatal terhadap kesehatannya.
Stres dari perjalanan, keramaian, dan tekanan kompetisi dapat memperparah kondisi, bahkan menyebabkan kematian. Selain itu, burung sakit berpotensi menularkan penyakit ke peserta lain di gantangan. Anda juga perlu memperhatikan burung yang baru ditrek atau baru pulih dari mabung.
Mereka membutuhkan jeda minimal satu bulan untuk pemulihan penuh sebelum kembali ke arena. Burung yang dipaksakan tampil dalam kondisi belum fit akan mengalami drop mental permanen, kehilangan fighter spirit, dan bahkan bisa cabul atau cabut bulu akibat stres berlebihan.
BACA JUGA: 9 Penyebab Murai Batu Jantan Tidak Mau Dijodohkan
Murai Batu dengan Mental Bermasalah dan Over Birahi
Mental burung adalah aset terpenting dalam kompetisi. Murai Batu yang mengalami masalah perilaku seperti mbagong, ngelowo berlebihan, atau bocor di bawah tidak layak dilombakan. Mbagong terjadi ketika burung menggembungkan bulu lehernya saat merasa tertekan, menandakan ia kalah mental dan menolak bertarung.
Kondisi ini sering dipicu oleh over emosi akibat penjemuran berlebihan atau setingan extra fooding yang tidak tepat. Sementara itu, burung yang bocor di bawah atau koar koar berlebihan menunjukkan ketidakstabilan birahi yang parah. Mereka cenderung bongkar isian secara tidak terkontrol tanpa strategi, menghabiskan energi sebelum penjurian dimulai.
Anda perlu melakukan diagnosis karakter terlebih dahulu apakah Murai Batu Anda termasuk tipe panas atau dingin, kemudian sesuaikan pola perawatan dan settingan cacing jika diperlukan. Burung dengan mental tidak stabil bahkan bisa menyerang sangkar sendiri atau mengalami ngetem total saat menghadapi lawan yang lebih dominan di sistem losgan.
Status Hukum dan Kontroversi di Kalangan Komunitas
Sejak dikeluarkannya Permen LHK Nomor P.20 Tahun 2018, Murai Batu resmi tidak lagi termasuk dalam daftar satwa dilindungi. Hal ini memungkinkan hobi kicau mania untuk memelihara, menangkar, dan melombakan burung ini secara legal. Namun, aturan lomba tetap bergantung pada komunitas dan EO masing masing
Ada kontroversi di kalangan pecinta burung mengenai larangan varian tertentu. Sebagian pihak berpendapat bahwa Murai Batu Balak atau varian lain sebenarnya boleh ikut lomba tergantung lokasi dan tidak ada aturan mutlak yang melarangnya. Sementara kubu lain menekankan pentingnya standar ketat untuk menjaga kualitas kompetisi dan mencegah kecurangan.
Anda perlu memahami bahwa setiap event memiliki regulasi spesifik, dan yang terbaik adalah selalu mengecek aturan main sebelum mendaftarkan burung gacor Anda.Repositori ilmiah seperti IPB dan USU lebih banyak membahas aspek konservasi dan penangkaran daripada aturan teknis lomba, sehingga sumber utama informasi tetap berasal dari komunitas praktisi kicau mania.


