Cara Menyembuhkan Katarak Pada Murai Batu dan Penyebab Utamanya

Berdasarkan riset dan pengalaman praktis dari berbagai klinik hewan, katarak pada murai batu disebabkan oleh beragam faktor yang saling berkaitan. Pertama, paparan sinar matahari berlebihan atau over jemur menjadi penyebab paling umum.

Ketika Anda menjemur murai batu lebih dari 2 jam sehari, terutama tanpa perlindungan yang memadai, radiasi UV dapat merusak struktur lensa mata secara bertahap. Kedua, manajemen pakan yang tidak tepat turut berkontribusi.

Pemberian extra fooding berlemak tinggi seperti ulat hongkong atau kroto secara berlebihan dapat memicu ketidakseimbangan metabolisme yang berujung pada kekeruhan lensa. Ketiga, faktor genetik juga berperan penting, terutama pada murai batu hasil persilangan tertentu yang membawa gen katarak. Selain itu, trauma fisik akibat benturan, infeksi mata yang tidak tertangani, dan defisiensi nutrisi seperti kekurangan vitamin A dan E juga dapat memicu timbulnya katarak.

Diagnosis Klinis yang Akurat

Langkah pertama yang wajib Anda lakukan adalah memastikan diagnosis yang tepat melalui konsultasi dengan dokter hewan berpengalaman dalam unggas. Jangan mengandalkan diagnosa sendiri karena gejala katarak seperti bintik putih pada mata bisa saja mirip dengan penyakit mata lain seperti konjungtivitis atau bahkan koksidiosis yang menyebar ke area mata.

Penelitian di Klinik Hewan Calico Yogyakarta menunjukkan bahwa dari 17 kasus katarak pada murai batu, sebanyak 15 kasus atau 88,23 persen berhasil sembuh dengan penatalaksanaan yang tepat. Dokter hewan akan melakukan pemeriksaan menyeluruh menggunakan oftalmoskop untuk membedakan katarak dari kondisi lain seperti koksidiosis okular atau infeksi bakterial. Diagnosis yang akurat ini penting karena penanganan katarak sangat berbeda dengan penanganan koksidiosis atau penyakit mata lainnya.

BACA JUGA: 6 Ciri Murai Batu Mulai Akan Bertelur dan Lama Mengeraminya

Manajemen Lingkungan Kandang

Setelah diagnosis dipastikan, Murai Batu Anda harus segera mengubah manajemen lingkungan kandang. Murai batu dengan katarak wajib dilindungi dari paparan sinar matahari langsung, baik pagi maupun sore hari, karena cahaya terang dapat memperparah rasa sakit pada mata yang sudah bermasalah. Tempatkan burung di area dengan pencahayaan redup dan gunakan krodong kain tipis untuk mengurangi intensitas cahaya yang masuk ke sangkar.

Hindari menaruh sangkar di teras atau lokasi terbuka yang berisiko terkena sinar langsung. Ingat, murai batu yang sedang dalam masa pemulihan katarak tidak boleh dijemur sama sekali, berbeda dengan rawatan harian normal yang membutuhkan penjemuran untuk menjaga agar burung tetap gacor. Manajemen lingkungan yang tepat ini dapat mencegah perburukan kondisi dan mengurangi stres pada burung, yang pada gilirannya membantu proses penyembuhan berjalan lebih optimal.

BACA JUGA: 7 Jenis Vitamin yang Dibutuhkan Burung Murai Batu

Kontrol Pakan Yang Diberikan

Manajemen nutrisi harus diperketat selama masa pengobatan katarak. Anda perlu mengontrol pemberian pakan untuk menghindari kelebihan protein dan lemak yang dapat memperburuk kondisi metabolisme murai batu. Kurangi atau hentikan sementara pemberian extra fooding seperti jangkrik, ulat hongkong, dan kroto yang biasanya Anda berikan untuk membuat burung gacor.

Selain itu, jangan memberikan suplemen tambahan atau vitamin kuning yang biasa digunakan untuk meningkatkan performa gacor karena dapat membebani metabolisme burung yang sedang fokus pada penyembuhan mata. Yang tidak kalah penting, pastikan kebersihan pakan dan air minum terjaga dengan baik untuk mencegah infeksi sekunder seperti koksidiosis.

Koksidiosis adalah penyakit parasit yang dapat memperlemah sistem imun murai batu dan memperburuk kondisi katarak. Gejala koksidiosis meliputi diare berdarah dan lesu, yang dapat menghambat proses pemulihan.

BACA JUGA: List 5 Murai Batu yang Tidak Boleh Dilombakan

Lakukan Pengobatan Herbal

Untuk kasus katarak tahap awal, pengobatan herbal dapat menjadi pilihan efektif sebelum mempertimbangkan tindakan invasif. Beberapa bahan alami yang terbukti membantu antara lain bunga kitolod yang mengandung alkaloid dan flavonoid. Anda dapat merendam bunga kitolod dalam air hangat selama 5 menit, lalu teteskan 1 hingga 2 tetes ke mata yang sakit setiap pagi dan sore.

Alternatif lain adalah daun sirih yang direbus dan diambil airnya untuk diteteskan 2 hingga 3 tetes. Madu murni yang dilarutkan dengan air dalam perbandingan 1 banding 5 juga dapat digunakan. Tingkat keberhasilan pengobatan herbal ini berkisar antara 30 hingga 65 persen untuk kasus ringan. Namun perlu diingat, pengobatan herbal ini hanya efektif untuk katarak tahap awal dan tidak dapat menggantikan tindakan medis untuk kasus yang sudah parah atau kronis.

BACA JUGA: 7 Cara Menjinakkan Murai Batu Hutan Yang Giras

Beri Dukungan Antibiotik dan Suplemen Imun

Selama masa pengobatan, murai batu Anda membutuhkan dukungan sistem imun yang kuat untuk melawan peradangan dan mencegah infeksi sekunder seperti koksidiosis atau infeksi bakterial lainnya. Berikan antibiotik atau suplemen pendukung imun seperti yang direkomendasikan dokter hewan, misalnya 5 hingga 7 tetes dalam air minum atau 1 tetes langsung ke paruh setiap hari.

Perlu dipahami bahwa antibiotik ini bukan untuk membunuh penyebab katarak, melainkan untuk menjaga daya tahan tubuh burung agar tetap prima selama proses penyembuhan. Murai batu dengan sistem imun yang lemah rentan terhadap berbagai penyakit oportunistik termasuk koksidiosis yang dapat memperparah kondisi kesehatannya secara keseluruhan. Dengan sistem imun yang kuat, proses regenerasi jaringan mata akan berjalan lebih optimal dan peluang kesembuhan meningkat signifikan, sehingga burung dapat kembali gacor seperti sediakala.

BACA JUGA: 13 Ciri Murai Batu Jawara yang Bagus Untuk Lomba

Istirahatkan Total Murai Batu

Murai batu dengan katarak memerlukan istirahat total tanpa gangguan apapun. Jangan memaksakan burung untuk berkicau atau tampil gacor karena ini hanya akan menambah stres dan memperburuk kondisinya. Hindari breeding, penjemuran, atau pemberian doping yang biasa Anda lakukan untuk meningkatkan performa di latber atau latpres.

Pegang burung dengan lembut saat melakukan perawatan untuk meminimalkan stres fisik. Masa pemulihan rata rata memerlukan waktu 3 minggu untuk kasus ringan, namun untuk katarak yang sudah tebal atau bilateral bisa mencapai 2 hingga 3 bulan. Selama periode ini, fokuskan perhatian pada pemulihan kesehatan mata, bukan pada performa kicauan.

Burung yang stres juga lebih rentan terhadap penyakit lain seperti koksidiosis yang dapat menghambat proses penyembuhan. Dengan manajemen stres yang baik, Anda memberikan kesempatan terbaik bagi murai batu untuk pulih sepenuhnya dan kembali menjadi burung gacor yang siap bersaing.

Operasi Katarak Jika Tidak Kunjung Sembuh

Jika pengobatan konservatif selama 2 hingga 3 minggu tidak menunjukkan perbaikan signifikan, operasi katarak menjadi pilihan terbaik yang harus Anda pertimbangkan. Teknik bedah modern seperti phacoemulsification dengan aspirasi telah terbukti efektif, dengan tingkat keberhasilan mencapai 83,3 persen berdasarkan penelitian klinis.

Prosedur ini melibatkan pengangkatan lensa yang keruh melalui insisi kecil pada kornea, dilakukan di bawah anestesi umum dan mikroskop bedah. Pasca operasi, murai batu Anda akan memerlukan perawatan intensif. Hal ini termasuk pemberian obat tetes mata anti inflamasi dan antibiotik setiap 6 jam selama 2 minggu untuk mencegah infeksi dan komplikasi seperti koksidiosis okular.

Biaya operasi berkisar antara 700 ribu hingga 1 juta rupiah per mata. Meskipun tidak murah, investasi ini sepadan karena dapat menyelamatkan nilai jual murai batu Anda dan mengembalikan performanya agar kembali gacor di arena lomba.

Scroll to Top