6 Ciri Murai Batu Mulai Akan Bertelur dan Lama Mengeraminya

Memahami tanda tanda murai batu siap bertelur adalah kunci sukses bagi Anda yang serius menekuni penangkaran burung gacor ini. Penelitian pada penangkaran lokal Indonesia menunjukkan bahwa betina murai batu menampilkan perubahan perilaku dan fisik yang dapat diprediksi menjelang fase reproduksi, mulai dari aktivitas menyusun sarang hingga perubahan pola makan yang signifikan.

Dengan mengenali ciri utama ini, Anda dapat mempersiapkan lingkungan optimal dan manajemen pakan yang tepat untuk mendukung keberhasilan penetasan dengan daya tetas mencapai 94 hingga 97 persen. Mari kita bahas secara mendalam bagaimana mengidentifikasi murai batu yang akan bertelur dan berapa lama durasi mengerami yang perlu Anda antisipasi berdasarkan data riset akademik.

Aktivitas Menyusun Sarang Meningkat dan Intensitas Kunjungan ke Kotak Sarang

Anda akan melihat perubahan perilaku signifikan ketika murai batu betina mulai memasuki fase siap bertelur. Salah satu indikator paling nyata adalah aktivitas menyusun sarang yang meningkat drastis. Betina akan sangat rajin mengangkut berbagai material sarang seperti serabut kelapa, ampas kayu, ranting, daun kering, dan rumput kering ke dalam glodok atau kotak penetasan. Penelitian pada penangkaran lokal menunjukkan bahwa perilaku ini merupakan sinyal bahwa sistem reproduksi betina telah matang dan persiapan bertelur sudah dimulai.

Betina murai batu yang siap bertelur akan sering keluar masuk kotak sarang, mengubah posisi bahan hingga bentuk sarang menjadi nyaman. Aktivitas ini menunjukkan kesiapan mental dan fisik untuk proses bertelur. Sementara itu, jantan biasanya lebih sering nangkring di dekat sarang dengan suara gacor untuk mengawal dan kadang ikut membawa sedikit bahan. Perilaku cloaca display atau gerakan mengangkat ekor untuk menunjukkan kloaka juga sering teramati saat fase matchmaking, yang merupakan indikator validasi kesiapan kawin dan reproduksi. Jika Anda melihat kombinasi perilaku ini, betina murai batu Anda kemungkinan besar akan bertelur dalam beberapa hari ke depan.

Perubahan Fisik pada Area Abdomen dan Kloaka yang Melebar

Ciri fisik yang hampir selalu tampak pada induk betina murai batu yang akan bertelur adalah perubahan pada bagian perut bawah dan area genital. Abdomen ventral atau perut bagian bawah akan terlihat lebih buncit bila Anda amati dari samping. Bila diraba dengan sangat hati hati oleh penangkar berpengalaman, bagian bawah perut terasa lebih lembek dan berisi, kadang bentuk telur sudah bisa dirasakan beberapa hari sebelum bertelur.

Kloaka atau dubur tampak lebih lebar dan agak menonjol sebagai persiapan untuk pengeluaran telur. Area sekitar anus juga menunjukkan pembengkakan ringan dan perubahan warna yang menandakan kematangan organ reproduksi. Pada beberapa individu murai batu, peternak akan memotong bulu bulu di sekeliling area ini untuk memastikan perkawinan yang sukses dan menghindari masalah pada telur yang tidak terbuahi atau zonk. Perubahan fisik ini merupakan tanda pasti bahwa murai batu betina Anda sudah dalam tahap akhir sebelum bertelur. Anda perlu memastikan nutrisi tetap optimal dan lingkungan tetap tenang agar proses bertelur berjalan lancar dan menghasilkan murai batu gacor di masa depan.

Pola Makan dan Minum yang Berubah dengan Frekuensi Lebih Tinggi

Penelitian pada penangkaran lokal menunjukkan bahwa betina murai batu yang siap bertelur mengalami perubahan signifikan dalam pola makan dan minum. Rata rata persentase perilaku makan, minum, dan membersihkan paruh pada betina lebih tinggi dibanding jantan ketika memasuki fase reproduksi. Betina akan lebih sering makan dan minum dibanding jantan karena kebutuhan energi, protein, mineral, dan air meningkat drastis menjelang pembentukan dan pengeluaran telur.

Anda akan mengamati bahwa betina murai batu sering membersihkan paruh atau preening di area paruh, yang menunjukkan aktivitas grooming meningkat. Hal ini logis secara fisiologis karena pembentukan telur membutuhkan cadangan nutrisi yang besar. Pemberian pakan utama berupa jangkrik muda dengan bobot yang sesuai dan extra fooding berkualitas tinggi sangat mempengaruhi kondisi birahi dan kesuksesan penetasan telur.

Pakan berkualitas tinggi yang kaya protein akan meningkatkan kesiapan birahi baik betina maupun jantan, sehingga peluang menghasilkan anakan murai batu gacor semakin besar. Pastikan Anda menyediakan voer berkualitas, kroto, dan cacing dalam porsi yang tepat untuk mendukung proses bertelur yang optimal.

Perilaku Kawin Meningkat dan Vokalisasi Berkurang pada Betina

Menjelang bertelur, Anda akan melihat frekuensi kawin antara jantan dan betina murai batu meningkat beberapa hari sebelum telur pertama keluar. Betina menunjukkan sinyal siap kawin dengan perilaku nungging atau menundukkan badan dengan ekor sedikit terangkat ketika jantan mendekat, sering disertai getaran sayap dan suara halus. Jantan menjadi lebih agresif dan protektif, rajin bunyi gacor di sekitar betina dan area sarang.

Salah satu ciri paling karakteristik adalah betina berkicau atau ngeplong yang merupakan panggilan untuk jantan, dalam istilah lokal dikenal sebagai unjal. Suara ini adalah sinyal birahi yang menunjukkan bahwa sel telur betina telah mulai matang dan betina siap untuk dikawinkan. Namun, perubahan vokalisasi juga terjadi dimana pola nyanyian atau respon berubah selama fase kawin dan menjelang pemijahan.

Penurunan beberapa tipe aktivitas vokal pada betina yang fokus membangun dan menjaga sarang merupakan indikator bahwa energi dialihkan untuk persiapan bertelur. Rangkaian perilaku ini merupakan pola umum burung passerine, setelah betina mencapai puncak birahi dan ovulasi, kawin terjadi berulang untuk memastikan pembuahan sebelum telur diselubungi cangkang, sehingga peluang menghasilkan keturunan murai batu gacor semakin tinggi.

Sikap Defensif dan Waktu Istirahat di Sekitar Sarang Meningkat

Betina murai batu yang akan bertelur menunjukkan perubahan drastis dalam perilaku harian. Anda akan mengamati bahwa betina lebih banyak diam di satu tempat, terutama dekat atau di dalam kotak sarang. Ia tampak lebih tenang tetapi bisa menjadi lebih sensitif bila sangkar didekati manusia asing atau burung lain. Kadang frekuensi berkicau betina berkurang, digantikan perilaku diam mengamati lingkungan dari dekat sarang.

Sikap waspada atau defensif terhadap sarang juga meningkat menjelang bertelur. Saat sarang sudah berisi telur atau dekat bertelur, induk termasuk jantan menunjukkan perilaku membela dan menjaga sarang dari gangguan atau predator. Perilaku proteksi sarang ini merupakan naluri alami untuk melindungi investasi reproduksi. Perubahan pola kotoran juga terjadi dimana feses menjadi lebih besar dan keluarnya tidak sesering biasanya menjelang dan saat mengerami, karena burung cenderung menahan kotoran ketika lama berada di sarang.

Pola aktivitas harian sedikit bergeser dengan lebih banyak waktu di sarang atau sekitar sarang. Mandi dan jemur tetap dilakukan tetapi cenderung lebih singkat dan setelah itu kembali ke sarang. Perubahan ini menandakan fokus betina beralih dari aktivitas biasa ke persiapan reproduksi dan proteksi area sarang untuk menjaga keberhasilan penetasan murai batu gacor.

Durasi Pengeraman dan Faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan Penetasan

Setelah murai batu bertelur, proses mengerami dimulai dan ini adalah fase krusial yang menentukan keberhasilan penetasan. Berdasarkan penelitian pada penangkaran lokal Indonesia, durasi mengerami murai batu berkisar antara 12 sampai 15 hari. Data spesifik dari penangkaran Kota Bengkulu menunjukkan rata rata durasi mengerami sebesar 12,1 hari dalam dua periode bertelur, dengan daya tetas mencapai 94,16 persen.

Penelitian di Kabupaten Kuningan mencatat bahwa proses mengerami berlangsung selama 14 ± 0 hari. Dalam praktik penangkaran, banyak peternak menggunakan 14 hari sebagai pedoman keselamatan dan monitor ketat dari hari ke 10 ke atas. Murai batu menghasilkan telur dengan jumlah bervariasi, rata rata 2 sampai 3 butir telur per periode bertelur, dengan beberapa kasus menghasilkan hingga 4 sampai 8 butir tergantung kondisi kesehatan dan nutrisi indukan.

Betina adalah pihak utama yang mengerami telur dengan pola harian berada di sarang sebagian besar waktu, hanya keluar sesekali untuk makan, minum, dan mandi singkat. Jantan membantu memberi makan betina dan menjaga wilayah teritorial dari gangguan. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan reproduksi meliputi pemberian pakan extra fooding berkualitas tinggi terutama jangkrik muda, kondisi lingkungan dengan suhu kandang 29 sampai 32 derajat Celsius dan kelembaban 69 sampai 80 persen, serta penyediaan sarang yang nyaman. Setelah telur menetas dan anak anakan disapih pada usia 30 hari, indukan memerlukan waktu istirahat rata rata 20,1 hari sebelum memasuki fase reproduksi berikutnya untuk bertelur kembali dan menghasilkan generasi murai batu gacor berikutnya.

Scroll to Top