Manfaat dan Bahaya Cicak untuk Murai Batu

Dalam dunia settingan burung, Cicak sering dianggap sebagai “senjata rahasia” oleh para pemain lapangan. Bagi Anda yang memiliki Murai batu dengan karakter dingin atau kurang “fighter”, Cicak mungkin menjadi solusi instan yang menggoda. Namun, seperti pedang bermata dua, pemberian Cicak menyimpan potensi bahaya serius jika tidak dilakukan dengan hati-hati.

Sebelum Anda memutuskan untuk memberikan reptil kecil ini kepada Murai batu kesayangan di rumah, ada baiknya Anda memahami secara mendalam apa saja untung ruginya. Jangan sampai niat hati ingin juara, Murai batu Anda malah rusak permanen.

1. Senjata Ampuh Pembangkit Emosi dan Birahi

Manfaat utama yang paling dicari dari Cicak adalah kemampuannya mendongkrak emosi Murai batu secara drastis. Kandungan protein yang sangat tinggi pada daging Cicak memiliki efek “panas” yang memicu kenaikan suhu tubuh Murai batu. Reaksi ini secara alami akan membangkitkan birahi dan sifat teritorialnya.

Jika Murai batu Anda sering terlihat lesu, kurang ngotot, atau hanya “plonga-plongo” saat bertemu lawan di gantangan, pemberian Cicak bisa menjadi trigger agar ia kembali ganas. Banyak kicau mania menggunakan Cicak sebagai menu wajib H-1 lomba untuk memastikan Murai batu tampil beringas membongkar isian.

BACA JUGA: Cara Menyembuhkan Katarak Pada Murai Batu dan Penyebab Utamanya

2. Sumber Protein Pemulih Ekor Rusak

Selain untuk mental, Cicak ternyata memiliki kandungan gizi yang baik untuk perbaikan sel tubuh. Daging Cicak kaya akan asam amino esensial yang dibutuhkan Murai batu saat masa pertumbuhan ekor atau pasca mabung.

Beberapa penghobi senior mempercayai bahwa pemberian Cicak secara berkala (namun terkontrol) dapat membantu mempercepat pertumbuhan bulu ekor Murai batu yang patah atau nyulam. Protein hewani pada Cicak bekerja lebih efektif dibanding jangkrik biasa dalam meregenerasi jaringan, membuat bulu Murai batu terlihat lebih berminyak dan mengkilap jika takarannya pas.

BACA JUGA: 5 Efek Samping Murai Batu Kebanyakan Makan Jangkrik

3. Ancaman Bakteri E. Coli dan Salmonella

Sekarang mari bicara bahayanya. Cicak liar adalah hewan yang hidup di lingkungan kotor, merayap di dinding berdebu, dan memakan serangga liar yang mungkin terpapar pestisida. Tubuh Cicak sering kali menjadi inang bagi bakteri jahat seperti E. Coli dan Salmonella.

Jika Anda memberikan Cicak mentah yang tidak higienis, bakteri ini akan masuk ke sistem pencernaan Murai batu. Akibatnya fatal, Murai batu Anda bisa mengalami diare parah, berak kapur, hingga kematian mendadak. Risiko ini sangat tinggi jika Cicak diambil sembarangan dari tempat yang sanitasinya buruk.

BACA JUGA: 10 Ciri Trotol Murai Batu yang Gacor Jika Dirawat

4. Risiko Gangguan Pencernaan dan “Nyilet”

Struktur fisik Cicak berbeda dengan jangkrik atau kroto. Kulit Cicak memiliki tekstur lengket dan alot, sementara tulang-tulangnya cukup keras bagi lambung burung kecil. Bagi Murai batu yang tidak terbiasa, mencerna Cicak utuh adalah kerja keras.

Sering terjadi kasus di mana Murai batu mengalami sembelit atau penyumbatan usus karena gagal mencerna kulit Cicak. Dalam jangka panjang, gangguan pencernaan ini bisa menyebabkan Murai batu mengalami kondisi “nyilet” (dada kurus tajam) karena nutrisi makanan tidak terserap sempurna, meskipun nafsu makannya terlihat normal.

BACA JUGA: 7 Ciri Murai Batu Macet Bunyi dan Cara Mencegahnya

5. Efek Samping Kecanduan dan Cabut Bulu

Bahaya laten lain dari Cicak adalah efek kecanduan. Cicak memiliki rasa gurih yang sangat disukai Murai batu. Jika Anda memberikannya terlalu sering, Murai batu bisa menjadi manja dan menolak makan Extra Fooding (EF) lain seperti jangkrik atau voer.

Lebih parah lagi, efek “panas” yang berlebihan dari Cicak bisa membuat Murai batu mengalami over-birahi yang tidak terkendali. Akibatnya, alih-alih berkicau, Murai batu malah akan mengejar-ngejar ekornya sendiri atau bahkan mencabuti bulunya (ciak bulu) karena merasa gatal dan gerah dari dalam tubuh akibat asupan Cicak yang berlebihan.

6. SOP Pemberian yang Aman dan Benar

Jika Anda tetap ingin memberikan Cicak demi performa, Anda wajib mematuhi aturan mainnya. Jangan pernah berikan Cicak berukuran besar secara utuh. Carilah Cicak yang berukuran kecil atau sedang (biasanya disebut “cicak tembok”). Buang kepala dan kakinya, lalu potong bagian ekornya karena bisa mengandung bakteri.

Cuci bersih bagian tubuh Cicak sebelum diberikan ke Murai batu. Jadikan Cicak hanya sebagai menu settingan darurat atau kondisional (misalnya seminggu sekali atau H-1 lomba), bukan sebagai menu harian. Dengan cara ini, Anda bisa mengambil manfaat Cicak sekaligus meminimalisir risiko bagi Murai batu.

Scroll to Top